MEKANISME DASAR PROSES AGING

Dengan meningkatnya kemajuan ilmu dan teknologi khususnya di bidang kesehatan, semakin meningkat pula kualitas hidup masyarakat. Semakin meningkat pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga meningkatkan kualitas hidupnya, dengan menjaga kesehatan individu maupun kesehatan lingkungannya. Melakukan olah raga secara teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Memelihara kesehatan lingkungan sekitar selalu bersih dan bebas dari pencemaran. Dengan kemajuan di bidang kesehatan, banyak ditemukan obat-obatan dan teknik pengobatan yang lebih baik. Dengan demikian angka kesakitan dan angka kematian dapat dikurangi. Sehingga akan meningkatkan usia harapan hidup masyarakat.

Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara – negara yang sudah maju, jumlah lansia rerlatif lebih besar dibanding dengan negara – negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia.

Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain – lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler dan lain-lain.

Meskipun demikian tidak sedikit kaum lansia yang masih produktif dan mampu untuk melaksanakan aktivitas sehari – harinya dengan baik, seperti berkebun, usaha wiraswasta, dan lain-lain.

Proses penuaan adalah suatu proses fisiologi umum yang sampai saat ini masih sulit untuk dipahami. Ditandai dengan adanya proses degenerasi sel dan sistem yang dibentuknya secara keseluruhan, perlahan tapi pasti. Proses menua berbeda pada setiap individu. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan, nutrisi, gaya hidup dan faktor lingkungan.

Terdapat beberapa teori mengenai proses menua :

1. Teori Genetik

Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa lama hidup ditentukan oleh informasi yang ada pada molekul DNA pada gen. Informasi ditransfer dari molekul DNA melalui berbagai langkah pada pembentukan protein yang diperlukan untuk fungsi sel secara normal.

Diketahui pula bahwa wanita mempunyai harapan hidup yang lebih lama dari pria (kira – kira 8 tahun lebih lama). Perbedaan harapan hidup, dimana betina lebih panjang umurnya didapatkan pada mencit, tikus dan anjing. Jenis kelamin ditentukan oleh kromosom XY bagi pria dan XX bagi wanita. Lebih panjangnya usia pada wanita mungkin dipengaruhi oleh lebih banyaknya kromatin X.

Orang yang mempunyai orang tua dan kakek nenek yang berusia panjang, rata-rata hidupnya lebih panjang kira – kira 8 tahun daripada mereka yang orang tuanya meninggal sebelum usia 50 tahun.

Panjang usia maksimal sudah terprogram. Sel-sel tertentu hanya dapat membelah sampai jumlah tertentu, setelah itu akan mati. Sel hewan yang tua dapat membelah sampai 20 – 25 X, dan sel hewan muda sampai 40 – 50 X. Di satu sisi batas usia ditentukan oleh fator genetik, namun faktor lain seperti nutrisi, stress, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan mempunyai peranan penting dalam menentukan umur yang dapat dicapai secara aktual.

Berdasarkan teori ini, proses penuaan telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap spesies dalan nuclei (inti sel) memiliki suatu jan genetik yang diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis, dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar. Bila jam tersebut terhenti maka seseorang akan meninggal dunia, meski tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir.

Pengontrolan genetik umur dilakukan dalam tingkat seseluler. Mengenai hal ini Hayflick (1980) melakukan penelitian melalui kultur sel in vitro, yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies. Untuk membuktikan apakah nukleus atau sitoplasma yang mengontrol replikasi , maka dilakukan transplantasi silang dari nukleus. Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa nukleus yang menentukan jumlah replikasi, kemudian menua dan mati, bukan sitoplasma (suhana, 1994).

2. Kerusakan pada DNA

Informasi yang dibutuhkan sel untuk membangun protein esensial tergantung pada bangunan molekul DNA. Bila rantai molekul DNA rusak, kemampuan sel untuk membuat enzim juga terganggu dan mengakibatkan kematian sel.

3. Teori Radikal Bebas

Radikal bebas mengandung oksigen dengan aktivitas tinggi yang dengan cepat bereaksi dengan molekul lain. Sebagai akibatnya enzim dan protein dapat berubah. Pembentukan radikal bebas dapat dpercepat oleh radiasi dan dihambat oleh zat anti oksidan.

4. Teori Oto-Imun

Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan diakibatkan oleh antibodi yang bereaksi terhadap sel normal dan merusaknya. Ini terjadi karena kegagalan mengenal sel normal dan pembentukan antibodi yang salah, sehingga bereaksi terhadap sel normal disamping sel normal menstimulasi pembentukannya. Teori ini mendapat sokongan dari kenyataan bahwa jumlah antibodi autoimun meningkat pada usia lanjut dan terdapat persamaan antara penyakit imun (artritis rematoid, arteritis, diabetes, tiroiditis, dan amiloidosis) dan fenomena menua.

B. Pelayanan Kesehatan dan Sosial

Masalah yang dirasakan oleh lansia bukan sekedar kelemahan secara fisik saja. Tetapi seluruh aspek kehidupannya yang meliputi aspek bio-psiko-sosial spiritual. Masalah lansia ini bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan lansia tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama.

Begitu kompleksnya masalah yang dihadapi oleh lansia maka dalam manangani masalah lansia ini juga membutuhkan pananganan secara multi dimensi, dan memerlukan kerja sama lintas program maupun lintas sektoral.

Saat ini sudah banyak dikembangkan produk – produk makanan dan minuman yang telah dilengkapi dengan zat – zat anti oksidan yang dapat menekan atau menghambat proses penuaan, dan penambahan unsur calsium untuk mencegah terjadinya osteoporosis.

1. Pelayanan Kesehatan.

Pelayanan kesehatan dapat di peroleh melalui pusat-pusat pelayanan kesehatan yang ada seperti Rumah Sakit, Puskesmas, maupun dokter praktek. Pelayanan yang diberikan antara lain mencakup upaya – upaya kuratif, preventif, promotif dan rehabilitatif.

2. Pelayanan Keperawatan

Selain pelayanan keperawatan di rumah sakit maupun tempat pelayanan kesehatan yang lain saat ini juga banyak dikembangkan adanya istilah “Home Care” atau perawatan di rumah. Bagi keluarga dengan lansia di rumahnya dapat mempekerjakan seorang perawat untuk memberikan asuhan keperawatan pada lansia di rumah. Asuhan keperawatan yang dapat diberikan mencakup usaha – usaha :

a. Preventif :

 melakukan cek up secara rutin : tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu.

 Menciptakan rasa aman dan nyaman : menganjurkan pada keluarga :

– Menjaga lantai tetap kering dan tidak licin (terutama kamar mandi).

– Mengatur ruangan tetap terang, sehingga dapat melihat dengan baik.

– Menghindarkan barang – barang yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan dengan mengatur barang agar tidak mudah ditabrak atau membuat lansia kesandung.

– Menyiapkan peralatan sehari – hari berada di dekatnya dan mudah dijangkau.

b. Promotif :

 Menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan bergizi, sayur, buah dan mengurangi makanan yang berlemak, minum air putih 2 – 3 liter per hari, menghindari rokok dan alkohol.

 Olah raga ringan secara teratur.

 Menghindarkan faktor – faktor yang dapat meningkatkan stress, baik stressor fisik, mental, sosial dan spiritual.

 Lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

c. Rehabilitatif :

 Melakukan cek up secara teratur

 Mengajarkan Range of Motion (ROM) atau pergerakan sendi untuk mencegah kekakuan sendi.

 Mengajarkan cara berjalan dengan : kursi roda dan tongkat.

d. Membuat rujukan atau membawa ke tempat pelayanan kesehatan (Puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan medis.

e. Pelayanan Sosial

Usaha pemerintah dalam rangka membantu meringankan beban para lansia adalah dengan memberikan fasilitas lebih bagi para lansia antara lain :

 Kartu tanda penduduk yang berlaku seumur hidup.

 Memberikan potongan harga tiket perjalanan.

 Memberikan potongan biaya pelayanan kesehatan.

 Memberikan penghargaan atas jasa – jasanya terhadap negara.

 Menampung dan mengurus lansia di Panti Wredha.

 Dan lain-lain.

Hampir di seluruh propinsi di Indonesia telah mempunyai tempat penampungan bagi para lansia, yang disebut Panti Wredha. Di tempat tersebut para lansia mendapatkan fasilitas berupa rumah beserta fasilitasnya. Para lansia juga dilatih untuk tetap bisa mandiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Para lansia diberi pelatihan keterampilan seperti berkebun, pertukangan, menjahit, menyulam dan lain-lain. Dengan berbekal keterampilan tersebut diharapkan mereka masih tetap produktif di usia lanjut.

Selain itu juga para lansia juga mendapatkan pelayanan kesehatan dari Puskesmas setempat dengan melakukan olah raga misalnya senam jantung sehat, pemantauan kesehatan secara berkala dan program pengobatan.

Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan lansia, karena merasa repot dan tidak sanggup mengurus, maka dapat menitipkannya pada Panti Wredha tersebut, sehingga semua kebutuhannya dapat dibantu. Tetapi ada juga keluarga yang tidak mau menitipkan orang tuanya pada Panti Wredha. Kalau dirawat di rumah sendiri lebih mudah, dekat dengan anak cucu, sekaligus bisa membalas budi kepada orang tua.

C. Kesimpulan

Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup akan meningkat pula jumlah usia lanjut (lansia). Sejalan dengan bertambahnya usia, kondisi bio – psiko – sosial dan spiritual mulai menurun, mudah mengalami gangguan. Semakin banyak masalah – masalah yang dihadapi terutama masalah kesehatan. Untuk itu perlu lebih meningkatkan pelayanan kesehatan pada lansia agar dapat hidup secara optimal, dan dapat menikmati masa tuanya dengan tenang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, 1995, EGC, Jakarta.

2. Ganong. WF, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 1995, Jakarta.

3. Lumbatobing. SM, Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Dimensia, 2001, FK-UI, Jakarta.

4. Kusnanto, Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional, 2004, EGC, Jakarta.

5. Kumpulan Makalah Asuhan Keperawatan Pada Lansia.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s